Mei 30, 2011

JINTEN HITAM vs HIV/AIDS



Berdasarkan data Dinkes Surabaya, sejak 2004 hingga Juni 2009 jumlah penderita HIV/AIDS 3.278 orang. Pada th.2009 saja hingga Juni ada 142 kasus atau penderita positif HIV. Sedangkan penderita AIDS 199 orang. Setiap hari ada tambahan 1 org penderita HIV/AIDS.
HIV/AIDS menjadi sebuah momok yg menakutkan bagi sebagian orang. Ada yg dg terang-terangan mengaku dan rutin berobat namun banyak pula penderita yg takut dan berusaha menyembunyikan penyakitnya bahkan terhadap orang tuanya sekalipun. Ada pula yg akhirnya justru melakukan perbuatan buruk dg menularkan penyakitnya kepada siapapun tidak terkecuali pada istrinya.
Sesungguhnya apa HIV/AIDS itu ? AIDS adalah singkatan dari Aquired Immune Deficiency Syndrome, penyakit ini disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Setelah virus ini masuk ke dalam tubuh manusia, akan menyerang pertahanan atau system kekebalan tubuh manusia sehingga daya tahan tubuh terhadap virus atau bakteri lainnya akan melemah.
Pada manusia system kekebalan tubuh atau imun terdapat pada sel darah putih. Imun berguna untuk menjaga, melawan dan menanggulangi infeksi yg menyerang tubuh agar tidak terserang penyakit. Selebihnya anda bisa membaca artikel di sini.
Bagi penderita HIV/AIDS tentu merasa berat karena hingga saat ini belum ditemukan obat yg benar-benar manjur. Yg bisa dilakukan biasanya dengan menjaga tubuhnya agar tidak sakit. Karena jika sudah terserang penyakit lain meskipun itu ringan seperti batuk atau flu saja dapat membahayakan tubuhnya.
Apa yg harus dilakukan ? Sesungguhnya dalam sebuah hadits dikatakan Allah tidak akan menurunkan penyakit kecuali ada obatnya. Itu artinya sesungguhnya telah ada obat penyembuh HIV/AIDS. Hanya saja belum ditemukan atau barangkali bahan tersebut masih belum diteliti.

Saran kami bagi penderita HIV/AIDS :
1. Mohon ampun pada Allah SWT dg sebenar-benarnya taubat. Karena bisa jadi musibah itu sebagai hukuman atau cobaan atau teguran pada kita atas dosa-dosa kita.
2. Berpikir positif. Yakinlah jika sebuah musibah mampu kita terima dengan lapang dada pasti ada gantinya yg jauh lebih besar manfaatnya. Bisa jadi seluruh dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT, atau kita jadi lebih dekat dg-Nya, lebih banyak beribadah pada-Nya sehingga itu nantinya akan membawa kemanfaatan berupa sorga.
3. Datang ke Puskesmas, RS, atau klinik yg biasanya digunakan untuk tempat konseling bagi penderita HIV/AIDS. Lakukan saran-saran dari dokter atau tenaga medis yg melayani.
4. Jika ada obat-obat tertentu yg harus diminum, ya harus diminum. Mintalah penjelasan tentang obat-obat tsb. Sekarang ini pemerintah sudah menyediakan dana khusus untuk penanganan HIV/AIDS. Juga banyak didapatkan obat dari sumbangan lembaga luar negeri. (Meskipun masih terdengar obat tsb harus ditebus dg biaya tertentu).

Selanjutnya berdasarkan hadits Nabi : Al Bukhari meriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa dia pernah mendengar Nabi SAW bersabda , ”Dalam habbatus sauda’ terkandung kesembuhan untuk segala penyakit, kecuali as-sam.” Aku bertanya, ”Apa as-sam itu?” Beliau menjawab, ”Kematian.”
Para Ulama memang berbeda pendapat dalam menafsiri hadits tersebut. Kenyataannya banyak sekali manfaat dari habbatus sauda’ atau jinten hitam ini. Lebih lengkapnya baca artikel kami di sini.
Untuk itu kami berkesimpulan mungkin saja Jinten Hitam mampu menghambat laju HIV bahkan mungkin mematikannya. Untuk itu bagi penderita HIV/AIDS kami sangat menganjurkan untuk mengkonsumsi produk Herba SEHATI Madu yg dicampur dg Jinten Hitam atau jika tidak suka bisa memilih Jinten Hitam kapsul. Karena virus HIV bisa mematikan maka penderita harus disiplin dalam mengkonsumsinya. Satu hari 3 hingga 6 kapsul. Atau 3 hingga 6 sendok makan madu jinten hitam. Selama tiga bulan penuh harus dikonsumsi. Lalu periksalah ke dokter untuk mengetahui perkembangan penyakitnya. Lalu konsumsi lagi dan begitu terus hingga sembuh. Penderita boleh mengurangi dosisnya jika memang sudah terdapat kemajuan. Seyogyanya penderita tetap berkomunikasi dengan kami sbg produsen Herba Sehati untuk memantau perkembangan keberhasilan pengobatan.
Bagaimana ? Apakah anda masih kurang yakin dg kemampuan Jinten Hitam? Sesungguhnya hanya Allah Maha Berkehendak yg memampukan segala obat untuk kesembuhan kita. Maka berserahdirilah kita pada Nya.


Desember 17, 2009

Pengidap HIV Bukan Orang Terbuang

Pengidap HIV Bukan Orang Terbuang

Ketika seseorang mendengar bahwa Mr.X terkena HIV/AIDS, maka di dalam pikirannya terbesit kata seseorang yg telah mendapatkan kutukan dari Tuhan yang mana kutukan itu berupa penyakit yg mematikan dan belum ada sama sekali obat penawarnya. Sebenarnya pandangan negative(stigmatisasi) dari masyarakat terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) memang beralasan, mungkin salah satunya dilihat dari penularannya. Karena penyakit HIV/AIDS penularannya melalui hubungan intim dan berganti-ganti pasangan dan tanpa menggunakan alat pengaman atau kondom, selain itu menggunakan jarum suntik bekas orang yg terkena HIV/AIDS pun bisa menjadi alternative ampuh dalam penularan HIV/AIDS.
Penyakit ini sendiri muncul sebagai epidemic sekitar tahun 1980, yg mana penyakit ini cenderung dimiliki oleh para kaum homoseksualitas di Amerika. Awalnya HIV/AIDS diduga sebagai penyakit yg menyerang system pernapasan bagian atas karena sebagian besar penderitanya saat itu terserang batuk yg parah dan sulit bernapas. Selain itu penderita juga engalami penyakit kulit berupa ruam-ruam yg menyebar pada kulitnya.
Ternyata pada kurun waktu sepuluh tahun terdapat 115.786 kasus HIV/AIDS dalam data centers for diseases control (CDC) dan penyerangannya bukan saja pada kaum homoseksuallitas tetapi juga pada kaum heteroseksual dan anak-anak.
AIDS adalah singkatan dari Aquired Immune Deficiency Syndrome, penyakit ini disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Setelah virus ini masuk ke dalam tubuh manusia, akan menyerang pertahanan atau system kekebalan tubuh manusia sehingga daya tahan tubuh terhadap virus atau bakteri lainnya akan melemah.
Pada manusia system kekebalan tubuh atau imun terdapat pada sel darah putih. Imun berguna untuk menjaga, melawan dan menanggulangi infeksi yg menyerang tubuh agar tidak terserang penyakit.
Walaupun terjangkit virus HIV, bukan berarti orang tersebut terkena AIDS, karena AIDS merupakan tahap akhir dari proses terjangkitnya tubuh oleh virus HIV. Banyak orang yg terjangkit mereka tidak mengalami sakit hingga bertahun-tahun. Tapi virus HIV akan terus menginfeksi system imun orang tersebut sehingga bisa saja virus atau bakteri yg tadinya tidak berbahaya bisa menyebabkan kematian, yg mana semua itu diakibatkan tubuh kehilangan predator alami untuk membasmi penyakit, proses ini disebut dengan opportunistic infections.
Saat seorang permata kali dinyatakan bahwa, ia menderita HIV, bisa saja akan terjadi konflik dalam dirinya, antara perasaan tidak percaya dan menolak atau menerima kenyataan . Mereka cenderung putus asa. Dalam hal ini penderita HIV/AIDS harus melakukan sebuah proses penerimaan keadaan dirinya sendiri sehingga ia bisa beradaptasi dan mengetahui langkah-langkah positif yg tetap bisa ia lakukan untuk bertahan dalam keadaan sulit tersebut, dari pada hal yg hanya merugikan mereka. Dukungan moril dari keluarga tak luput harus selalu mereka dapatkan, karena dukungan itu sangat mengurangi beban mereka.
Meskipun demikian para penderita HIV/AIDS cenderung dianggap sebagai orang yg terbuang. Terkadang mereka diperlakukan tidak adil oleh orang-orang terdekatnya. Penderita HIV/AIDS adalah bagian dari kehidupan yg terus berjalan dab perlu diisi dengan kegiatan yg positif dan bermanfaat, bukan untuk dikucilkan. Mereka masih punya kehidupan sebagai mana layaknya orang yg tidak sakit, salah satunya mereka bisa menjadi anngota kegiatan social khususnya dalam program gerakan cegah HIV/AIDS.

Ditulis kembali dari artikel Warteg Harian Surya
Oleh Wahyu Natanael
Karyawan PT. Bank Bukopin, tbk
Selasa, 1 Desember 2009.

Oktober 17, 2009

Gambar / Foto Produk (Madu, Jintan Hitam/habbatussauda, Minyak Zaitun




    PRODUK BARU KAMI :  
    Susut Lemak - Pelangsing Tubuh Alami



      Jintan Hitam, Habbatussauda, Herbal Murah, Produsen Herbal

      aslimadujinten.blogspot.com






      Herba SEHATI
      Taman Tasikmadu Indah
      Kav. 29, RT.04/RW.02, Kelurahan Tasikmadu
      Lowokwaru, Kota Malang
      Bapak Herman 08125244096/0341-7699654     
      atau Ibu Intan 0341-9061010
      Facebook : hermandiri sehati/Intan Sadikin


      Oktober 16, 2009

      Cara Meruqyah



      Secara umum ruqyah terbagi menjadi dua, ruqyah sesuai dengan nilai-nilai syariah / ruqyah sya’iyyah dan ruqyah yang tidak sesuai dengan nilai-nilai syariah / ruqyah sirkiyyah.

      Pengobatan dengan ruqyah Nabawi yang riwayatnya shahih merupakan obat yang sangat bermanfaat. Dan juga suatu do’a yang dipanjatkan. Apabila do’a tersebut terhindar dari penghalang-penghalang terkabulnya do’a itu, maka ia merupakan sebab yang sangat bermanfaat dalam menolak hal-hal yang tidak disenangi dan tercapainya hal-hal yang diinginkan. Yang demikian itu termasuk salah satu obat yang sangat bermanfat, khususya yang dilakukan berkali-kali. Dan do’a pun berfungsi sebagai panangkal bala’ (musibah), mencegah dan menyembuhkannya,menghalangi turunnya, atau meringankannya jika ternyata sudah sempat turun.
      “Tidak ada yang dapat mencegah qadha’ (takdir) kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat memberi tambahan pada umur kecuali kebajikan”.

      Tetapi disini terdapat satu hal yang harus dimengerti dengan cermat, yaitu bahwa ayat-ayat, dzikir-dzikr, do’a-do’a, dan beberapa ta-‘awwudz (permohonan perlindungan kepada Allah) yang dipergunakan untuk mengobati atau untuk ruqyah pada hakikatnya pada semua ayat, dzikir-dzikir, do’a-do’a dan ta’awwudz itu sendiri memberi manfaat yang besar dan juga dapat menyembuhkan. namun, ia memerlukan penerimaan (dari orang yang sakit) dan kekuatan orang yang mengobati dan pengaruhnya. Jika suatu penyembuhan itu gagal, maka yang demikian itu disebabkan oleh lemahnya pengaruh pelaku, atau karena tidak adanya penerimaan oleh pihak yang diobati, atau adanya rintangan yang kuat di dalamnya yang menghalangi reaksi obat.

      Pengobatan dengan ruqyah ini dapat dicapai dengan adanya dua aspek, yaitu dari pihak pasien (orang yang sakit) dan dari pihak orang yang mengobati. Yang berasal dari pihak pasien adalah berupa kekuatan dirinya dan kesungguhan bergantung kepada Allah, serta keyakinannya yang pasti bahwa Al-Qur’an itu memang penyembuh sekaligus rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ta’awwudz yang benar yang sesuai antara hati dan lisan, maka yang demikian itu merupakan suatu bentuk perlawanan. Dan seseorang yang melakukan perlawanan tidak akan memperoleh kemenangan dari musuh kecuali dengan dua hal, yaitu:

      Pertama, keadaan senjata yang dipergunakan haruslah benar, bagus dan kedua tangan yang menggunakannya pun harus kuat. Jika salah satu dari keduanya hilang, maka senjata itu tidak banyak berarti, apalagi jika kedua hal diatas tidak ada, yaitu hatinya kosong dari tauhid, tawakkal, takwa, tawajjuh (menghadap, bergantung sepenuhnya kepada Allah), dan tidak memilki senjata.

      Kedua, dari pihak yang mengobati dengan Al Qur’an dan As Sunnah juga harus memenuhi kedua hal diatas. Oleh karena itu Ibnut Tiin berkata: “Ruqyah dengan menggunakan beberapa kalimat ta’awwudz dan juga yang lainnya dari Nama-Nama Allah adalah pengobatan rohani. Jika dilakukan oleh lisan orang-orang yang baik, maka dengan izin Allah kesembuhan tersebut akan terwujud.
      Para ulama sepakat membolehkan ruqyah dengan tiga syarat, yaitu:
      1. Ruqyah itu dengan menggunakan firman Allah, atau Asma’ dan Sifat-Nya, atau sabda Rasulullah.
      2. Ruqyah itu boleh diucapkan dalam bahasa Arab atau bahasa latin yang difahami maknanya.
      3. Harus diyakini bahwa bukanlah dzat ruqyah itu sendiri yang memberikan pengaruh, tetapi yang memberi pengaruh itu adalah kekuasaan Allah, sedangkan ruqyah hanya merupakan salah satu sebab saja.


      Adapun ruqyah syar’iyyah harus memenuhi beberapa syarat diantaranya adalah:
      1. Orang yang melakukan pengobatan / terapi (muaij) harus memiliki kebersihan aqidah, aqhlak yang terpuji dan istiqomah dalam sunnah/ibadah.
      2. Bacaan ruqyah berupa ayat-ayat al-Quran dan doa atau wirid dari rasulullah SAW yang shahih.
      3. Doa yang dibacakan jelas pengucapannya dan diketahui maknanya.
      4. Berkeyakinan bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, tetapi dengan Taqdir Allah SWT
      5. Tidak isti’anah (minta tolong) kepada jin atau yang lainnya selain Allah
      6. Tidak menggunakan benda-benda yang menimbulkan syubhat/keragu-raguan dan syirik misal: keris, akik, gantungan-gantungan dipintu, jimat-jimat dll
      7. Cara pengobatannya harus sesuai dengan nilai-nilai syariah, menutup aurat, khususnya penanganan pasien lawan jenis harus ada mahramnya
      Sehingga ruqyah yang tidak memiliki syarat sebagaimana kriteria diatas dapat dikatakan ruqyah syirkiyyah . Beberapa contoh ruqyah dan pengobatan yang tidak sesuai dengan syariah diantaranya:
      1. Meminta bantuan pada jin, bersumpah kepada jin dan memenuhi permintaan / syarat dari jin yang mengganggu
      2. Ruqyah yang dibacakan oleh tukang sihir
      3. Bersandar hanya pada ruqyah, bukan pada Allah
      4. Mencampuradukkan ayat-ayat al-Qur’an dengan bacaan yang lain yang tidak diketahui artinya
      5. Ruqyah yang menggunakan sesajen
      6. Ruqyah dengan menggunakan alat yang dapat mengarah pada syirik dan bid’ah
      7. Memenjarakan jin dan menyiksanya

      Ruqyah yang utama adalah dengan melakukan penjagaan terhadap diri sendiri dari berbagai macam gangguan jin dan sihir. Hal ini lebih utama dari meminta ruqyah kepada orang lainnya sebagaimana Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa pernah berkata: “ Sesungguhnya Tauhid yang lurus dan benar yang dimiliki seorang muslim adalah senjata untuk mengusir syaithan

      Oleh karena itu bagi orang yang beriman harus senantiasa meruqyah dirinya sendiri/ ruqyah dzatiah dalam kesehariannya dengan berbagai cara diantaranya:
      1. Memperbanyak dzikir dan doa yang ma’tsur dari Rasulullah SAW, khususnya setiap pagi dan sore setelah sholat shubuh dan ashar/sholat wajib
      2. Membaca Al-Qur’an rutin setiap hari
      3. Meningkatkan ibadah dan pendekatan diri pada Allah SWT
      4. Menjauhi tempat-tempat masksiat
      5. Mengikuti mejelis ilmu/taklim dan duduk bersama orang-orang sholeh.
      Di kutip oleh : Herman Ali Sadikin, S.T.
      *) Sumber:
      1. Doa dan Penyembuhan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, Syaikh Said Al Qahthani, Al-Qawam, 2003
      2. Ruqyah Mengobati Guna-guna dan Sihir, Yazid bin Abd Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2005
      3. Bayan Dewan Syariah Pusat PKS tentang Ruqyah nomor: 05/B/K/DSP-PKS/XII/1426




      Hubungi Herba SEHATI